Selasa, 07 Januari 2014

Saringan Tiga Kali


Jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi. Seorang filsuf.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul," lanjut Dr. Socrates.

"Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?"

"Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda".

"Baiklah," kata Socrates. "Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu: KEBAIKAN."

"Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk," jawab pria tersebut.

"Jadi," lanjut Socrates, "anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN."

"Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Dr. Socrates, "Jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

Kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang ibarat sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah. Keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.

Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

Kabut Tebal Penghalang


Wanita yang berambisi uantuk MENYEBERANGI selat Catalina sejauh 26 mil


Hari itu, tampak hamparan ES dan KABUT yang begitu TEBAL ketika Florence memulai PERJUANGANNYA.

Setelah hampir 16 jam BERJUANG, Florence menatap ke depan, namun dia hanya melihat KABUT TEBAL.

Dia tak dapat MELIHAT daratan dan akhirnya memutuskan untuk MENYERAH.

Florence tak pernah mengira jika dibalik KABUT itu DARATAN yang menjαdi TUJUAN AKHIRNYA hanya tinggal SETENGAH MIL lagi.

Dia begitu MENYESAL karena harus MENYERAH justru di saat dia hampir BERHASIL.

Florence MENYERAH bukan karena DINGINnya air laut, bukan pula karena KELELAHAN namun karena dia KEHILANGAN TUJUAN-NYA.

MELIHAT TUJUAN adalah hal PENTING bagi sebagian orang.

Namun TUHAN melatih ĸϊтα bukan HIDUP karena MELIHAT tapi HIDUP karena PERCAYA.

Sehingga bila KABUT KEHIDUPAN membuat TUJUAN kita terlihat KABUR dan SAMAR, kita tetap PERCAYA dan terus MELANGKAH.

Jika kita sudah begitu jauh MELANGKAH, PERCAYALAH bahwa KEMENANGAN sudah ada di depan mata.

Jangan justru MENYERAH di saat TERAKHIR.

INGATLAH seberapa KERAS kita telah BERJUANG.

Tetaplah BERSEMANGAT dan YAKIN bahwa di suatu TITIK, dibalik KABUT itu ada KEMENANGAN kita.

SELESAIKANLAH apa yang telah kita MULAI.

"JANGAN MENYERAH kanya karena KABUT yang menutupi PANDANGANMU.".